Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 April 2010

Hikayat

Kompetensi Dasar : 15.1Mengidentifikasi karakteristik dan struktur unsur intrinsik sastra Melayu klasik

Hikayat Gadang Perkasa


Kata sahibul hikayat, maka tersebutlah perkataan ada seorang berhuma diam di Tapah hambanya Gadang namanya asalnya orang Tambun; senantiasa diperintah tuannya menebas menebang. Sekali peristiwa, Gadang menahan lukahnya di dalam sungai pada suatu hari. Apabila pagi dilihatnya lukahnya kosong tidak berisi, yang tinggal hanya sisik ikan dan tulangnya. Demikianlah yang terjadi kepada Gadang setiap hari. Setiap hari jualah Gadang membuang sisik dan tulang ikan ke dalam sungai. Adapun sungai itu dinamai orang Sungai Kinta pada hari ini. Maka terfikirlah Gadang di dalam hati, "Siapa gerangan yang makan ikan dilukahku ini? Biar kuintai supaya aku tahu siapa yang empunya kerja."

Maka pada suatu hari bersembunyilah Gadang di balik semak. Nampaklah olehnya akan hantu air datang lalu mengangkat lukahnya.Matanya merah seperti biji saga atau kereta Proton Saga warna merah, rambutnya menggerbang seperti rambut anggota kumpulan Black atau Death Metal barat dan janggutnya panjang mencecah air sungai. Gadang pun memberanikan hati persis besi berani walupun ia sebenarnya takut melihatkan rupa hantu air tersebut. Elok jualah ketika itu hari masih siang. Kalau malam sudah pasti Gadang cabut lari. Hendak rugi berapa kilo ikan sekalipun dirinya tidak kisah. Susah-susah beli sahaja ikan di pasar. Maka disebabkan Gadang dah terlajak ke depan, tambah-tambah ada senapang patah di hujung tangan, Gadang pun menangkap hantu air itu. Maka kata Gadang, "Mengapa engkau suka makan ikan aku? Engkau tak nampak ke kat lukah ni ada nama aku, ni hah G.A.D.A.N.G - Gadang! Sekarang terimalah hukuman mati mandatori daripada aku!"


Setelah mendengar kata Gadang itu, hantu air itu pun terketar-ketar merayu. Maka kata hantu itu, "Janganlah engkau bunuh aku, janganlah aku engkau bunuh dan janganlah kita bunuh membunuh semata-mata kerana ikan. Rayunya lagi, "Aku hantu yang lemah, hanya mampu berserah...!" sambil mengharapkan belas kasihan daripada Gadang. Kemudian hantu itu menambah lagi, "Aku sanggup menunaikan apa saja permintaan engkau asal saja aku tidak dibunuh...."

Maka terfikirlah Gadang di dalam hati, 'Jika aku nak buat permintaan lagu, hantu air ni bukannya juruhebah radio; jika aku hendak kaya, aku dah biasa makan roti kaya; jika aku hendak jadi orang berwang tentu aku tak reti gunakan wang sebab aku dah jadi beruang; jika aku hendak jadi halimunan atau boleh ghaib tentu aku jadi tak ubah macam biskut chocfudge-sekejap ada, sekejap tak ada, jika demikian, baik aku minta jadi kuat, supaya senang aku buat kerja tuan aku'.
Setetah terlintas demikian maka Gadang pun berkata kepada hantu tersebut,"Hoi hantu, beri aku jadi kuat, supaya pokok kemuncup atau pokok tauge mampu kucabut!"

"Ceh! Aparaa... kalau aku kuat dah lama dah aku terajang kau... tapi kalau kau nak jugak jadi kuat, kau pegilah menuntut ilmu batin kat sorang Tok Guru di hujung negeri ni.... Ni haaa! Kau tengok tangan aku ni, cacat haa... ni Tok Guru tu la yang mengkarate-nya... lepas tu dicabutnya sebatang pokok kelapa sawit lepas tu pulak dihempapkannya kat belakang aku... tapi nasib aku tak mati... lepas tu nasib baiklah aku berjaya melarikan diri,"
cerita bantu air itu panjang lebar.

"Kalau macam tu, baiklah aku lepaskan kau...." Lalu Gadang pun melepaskan janggut hantu air tu. Besoknya, Gadang pun pergilah menemui Tok Guru yang dimaksudkan itu. Dipendekkan ceritanya maka Gadang pun menuntulah ilmu kuat daripada Tok Guru itu hingga tamat. Setelah tamat Gadang pun pulang ke kampungnya.

Sesampainya di kampung Gadang pun mencuba kekuatannya dengan mencabut pokok-pokok besar yang ada di situ. Gadang menjadi kuat dengan tiba-tiba. Maka terang-benderanglah kawasan itu dikerjakan oleh Gadang. Maka habislah segala pokok kecil, besar, tua, muda di kawasan itu lalu menjadi padang jarak padang tekukur atau mungkin lebih tepat, stadium jarak stadium tekukur.
Apabila tuannya menyedari semua itu maka tuannya pun bertanya, "Siapakah yang membantu engkau melakukan ini semua? Pekerja Indonesia atau pekerja Bangladesh?"

Maka berkata Gadang, "Saya seorang melakunya!"

Maka kata tuannya lagi, "Bagaimana engkau boleh melakukannya seorang diri dengan sebegitu pantas?"

Maka oleh Gadang segala yang berlaku diceritakanlah kepada tuannya. Syahdan, Gadang semakin disayangi oleh tuannya.

Setelah perkhabaran itu sampai ke Temasik maka Gadang dijemput oleh baginda Sultan ke istana. Sultan pun bertitah kepada Gadang, "Benarkah apa yang beta dengar wahai Gadang? Benarkah kamu memiliki kekuatan yang luar biasa?"

"Benar tuanku!" Kemudian Sultan Temasik pun berkenan melihat sendin kekuatan Gadang. Barulah Sultan Temasik benar-benar percaya.

"Wahai Gadang! Oleh kerana negeri kamu di bawah takluk jajahan beta maka kamu mesti menunaikan perintah beta ini?" tiba-tiba Sultan Temasik bertitah.

"Ampun patik tuanku! Patik sedia menunaikan apa saja perintah tuanku kalau itu yang tuanku inginkan!" balas Gadang.

Maka kata Sultan Temasik, "Begini Gadang. Ada pun beta baru menerima e-mail daripada Raja Tanah

Jawa yang inginkan bantuan. Negara baginda kini dilanda jerebu yang amat dasyat gara-gara perbuatan rakyat yang membakar hutan untuk dijadikan ladang kelapa sawit atau padi huma. Jika pokok-pokok di hutan tersebut hendak ditebang sudah tentu mereka tidak terdaya jadi hendak tak hendak dengan membakar hutan sajalah jalan-nya. Dengan itu ladang dapat dibuka kerana hanya itulah mata pencarian mereka. Masalahnya sekarang jika mereka membakar hutan, jerebu pula yang akan melanda."

Sultan Temasik berhenti sebentar kemudian menyambung, "Jadi beta hendak kamu pergi ke Tanah Jawa dan kerjakan hutan-hutan yang mereka hendak jadikan ladang. Dengan itu mereka tidak perlu lagi membakar hutan buat beberapa waktu ini. Beta akan telefon raja Tanah Jawa sekarang juga untuk memberitahu khabar gembira ini!

Gadang hanya mampu berkata dalam hati, "Kalau begini aku lebih rela jadi seperti dulu. Jadi kuat pun tak berguna kalau kena buat yang bukan-bukan!”

Uji Kompetensi
1. Tuliskan sinopsis di atas karya sastra Melayu klasik dengan bahasamu sendiri ke dalam beberapa paragraf sehingga menjadi karangan.
2. Sebutkan 7 unsur instrinsik sastra Melayu klasik/hikayat di atas!

Senin, 25 Januari 2010

Asal Usul Danau Lipan


Di kecamatan Muara Kaman kurang lebih 120 km di hulu Tenggarong ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur ada sebuah daerah yang terkenal dengan nama Danau Lipan. Meskipun bernama Danau, daerah tersebut bukanlah danau seperti Danau Jempang dan Semayang. Daerah itu merupakan padang luas yang ditumbuhi semak dan perdu.
Dahulu kala kota Muara Kaman dan sekitarnya merupakan lautan. Tepi lautnya ketika itu ialah di Berubus, kampung Muara Kaman Ulu yang lebih dikenal dengan nama Benua Lawas. Pada masa itu ada sebuah kerajaan yang bandarnya sangat ramai dikunjungi karena terletak di tepi laut.
Terkenallah pada masa itu di kerajaan tersebut seorang putri yang cantik jelita. Sang putri bernama Putri Aji Bedarah Putih. Ia diberi nama demikian tak lain karena bila sang putri ini makan sirih dan menelan air sepahnya maka tampaklah air sirih yang merah itu mengalir melalui kerongkongannya.
Kejelitaan dan keanehan Putri Aji Bedarah Putih ini terdengar pula oleh seorang Raja Cina yang segera berangkat dengan Jung besar beserta bala tentaranya dan berlabuh di laut depan istana Aji Bedarah Putih. Raja Cina pun segera naik ke darat untuk melamar Putri jelita.
Sebelum Raja Cina menyampaikan pinangannya, oleh Sang Putri terlebih dahulu raja itu dijamu dengan santapan bersama. Tapi malang bagi Raja Cina, ia tidak mengetahui bahwa ia tengah diuji oleh Putri yang tidak saja cantik jelita tetapi juga pandai dan bijaksana. Tengah makan dalam jamuan itu, puteri merasa jijik melihat kejorokan bersantap dari si tamu. Raja Cina itu ternyata makan dengan cara menyesap, tidak mempergunakan tangan melainkan langsung dengan mulut seperti anjing.
Betapa jijiknya Putri Aji Bedarah Putih dan ia pun merasa tersinggung, seolah-olah Raja Cina itu tidak menghormati dirinya disamping jelas tidak dapat menyesuaikan diri. Ketika selesai santap dan lamaran Raja Cina diajukan, serta merta Sang Putri menolak dengan penuh murka sambil berkata, "Betapa hinanya seorang putri berjodoh dengan manusia yang cara makannya saja menyesap seperti anjing."
Penghinaan yang luar biasa itu tentu saja membangkitkan kemarahan luar biasa pula pada Raja Cina itu. Sudah lamarannya ditolak mentah-mentah, hinaan pula yang diterima. Karena sangat malu dan murkanya, tak ada jalan lain selain ditebus dengan segala kekerasaan untuk menundukkan Putri Aji Bedarah Putih. Ia pun segera menuju ke jungnya untuk kembali dengan segenap bala tentara yang kuat guna menghancurkan kerajaan dan menawan Putri.
Perang dahsyat pun terjadilah antara bala tentara Cina yang datang bagai gelombang pasang dari laut melawan bala tentara Aji Bedarah Putih.
Ternyata tentara Aji Bedarah Putih tidak dapat menangkis serbuan bala tentara Cina yang mengamuk dengan garangnya. Putri yang menyaksikan jalannya pertempuran yang tak seimbang itu merasa sedih bercampur geram. Ia telah membayangkan bahwa peperangan itu akan dimenangkan oleh tentara Cina. Karena itu timbullah kemurkaannya.
Putri pun segera makan sirih seraya berucap, "Kalau benar aku ini titisan raja sakti, maka jadilah sepah-sepahku ini lipan-lipan yang dapat memusnahkan Raja Cina beserta seluruh bala tentaranya." Selesai berkata demikian, disemburkannyalah sepah dari mulutnya ke arah peperangan yang tengah berkecamuk itu. Dengan sekejap mata sepah sirih putri tadi berubah menjadi beribu-ribu ekor lipan yang besar-besar, lalu dengan bengisnya menyerang bala tentara Cina yang sedang mengamuk.
Bala tentara Cina yang berperang dengan gagah perkasa itu satu demi satu dibinasakan. Tentara yang mengetahui serangan lipan yang tak terlawan itu, segera lari lintang-pukang ke jungnya. Demikian pula sang Raja. Mereka bermaksud akan segera meninggalkan Muara Kaman dengan lipannya yang dahsyat itu, tetapi ternyata mereka tidak diberi kesempatan oleh lipan-lipan itu untuk meninggalkan Muara Kaman hidup-hidup. Karena lipan-lipan itu telah diucap untuk membinasakan Raja dan bala tentara Cina, maka dengan bergelombang mereka menyerbu terus sampai ke Jung Cina. Raja dan segenap bala tentara Cina tak dapat berkisar ke mana pun lagi dan akhirnya mereka musnah semuanya. Jung mereka ditenggelamkan juga.
Sementara itu Aji Bedarah Putih segera hilang dengan gaib, entah kemana dan bersamaan dengan gaibnya putri, maka gaib pulalah Sumur Air Berani, sebagai kekuatan tenaga sakti kerajaan itu. Tempat Jung Raja Cina yang tenggelam dan lautnya yang kemudian mendangkal menjadi suatu daratan dengan padang luas itulah yang kemudian disebut hingga sekarang dengan nama Danau Lipan.

(Disadur dari Masdari Ahmad, Kumpulan Cerita Rakyat Kutai, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta 1979)

Asal Usul Danau Lipan

Di kecamatan Muara Kaman kurang lebih 120 km di hulu Tenggarong ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur ada sebuah daerah yang terkenal dengan nama Danau Lipan. Meskipun bernama Danau, daerah tersebut bukanlah danau seperti Danau Jempang dan Semayang. Daerah itu merupakan padang luas yang ditumbuhi semak dan perdu.
Dahulu kala kota Muara Kaman dan sekitarnya merupakan lautan. Tepi lautnya ketika itu ialah di Berubus, kampung Muara Kaman Ulu yang lebih dikenal dengan nama Benua Lawas. Pada masa itu ada sebuah kerajaan yang bandarnya sangat ramai dikunjungi karena terletak di tepi laut.
Terkenallah pada masa itu di kerajaan tersebut seorang putri yang cantik jelita. Sang putri bernama Putri Aji Bedarah Putih. Ia diberi nama demikian tak lain karena bila sang putri ini makan sirih dan menelan air sepahnya maka tampaklah air sirih yang merah itu mengalir melalui kerongkongannya.
Kejelitaan dan keanehan Putri Aji Bedarah Putih ini terdengar pula oleh seorang Raja Cina yang segera berangkat dengan Jung besar beserta bala tentaranya dan berlabuh di laut depan istana Aji Bedarah Putih. Raja Cina pun segera naik ke darat untuk melamar Putri jelita.
Sebelum Raja Cina menyampaikan pinangannya, oleh Sang Putri terlebih dahulu raja itu dijamu dengan santapan bersama. Tapi malang bagi Raja Cina, ia tidak mengetahui bahwa ia tengah diuji oleh Putri yang tidak saja cantik jelita tetapi juga pandai dan bijaksana. Tengah makan dalam jamuan itu, puteri merasa jijik melihat kejorokan bersantap dari si tamu. Raja Cina itu ternyata makan dengan cara menyesap, tidak mempergunakan tangan melainkan langsung dengan mulut seperti anjing.
Betapa jijiknya Putri Aji Bedarah Putih dan ia pun merasa tersinggung, seolah-olah Raja Cina itu tidak menghormati dirinya disamping jelas tidak dapat menyesuaikan diri. Ketika selesai santap dan lamaran Raja Cina diajukan, serta merta Sang Putri menolak dengan penuh murka sambil berkata, "Betapa hinanya seorang putri berjodoh dengan manusia yang cara makannya saja menyesap seperti anjing."
Penghinaan yang luar biasa itu tentu saja membangkitkan kemarahan luar biasa pula pada Raja Cina itu. Sudah lamarannya ditolak mentah-mentah, hinaan pula yang diterima. Karena sangat malu dan murkanya, tak ada jalan lain selain ditebus dengan segala kekerasaan untuk menundukkan Putri Aji Bedarah Putih. Ia pun segera menuju ke jungnya untuk kembali dengan segenap bala tentara yang kuat guna menghancurkan kerajaan dan menawan Putri.
Perang dahsyat pun terjadilah antara bala tentara Cina yang datang bagai gelombang pasang dari laut melawan bala tentara Aji Bedarah Putih.
Ternyata tentara Aji Bedarah Putih tidak dapat menangkis serbuan bala tentara Cina yang mengamuk dengan garangnya. Putri yang menyaksikan jalannya pertempuran yang tak seimbang itu merasa sedih bercampur geram. Ia telah membayangkan bahwa peperangan itu akan dimenangkan oleh tentara Cina. Karena itu timbullah kemurkaannya.
Putri pun segera makan sirih seraya berucap, "Kalau benar aku ini titisan raja sakti, maka jadilah sepah-sepahku ini lipan-lipan yang dapat memusnahkan Raja Cina beserta seluruh bala tentaranya." Selesai berkata demikian, disemburkannyalah sepah dari mulutnya ke arah peperangan yang tengah berkecamuk itu. Dengan sekejap mata sepah sirih putri tadi berubah menjadi beribu-ribu ekor lipan yang besar-besar, lalu dengan bengisnya menyerang bala tentara Cina yang sedang mengamuk.
Bala tentara Cina yang berperang dengan gagah perkasa itu satu demi satu dibinasakan. Tentara yang mengetahui serangan lipan yang tak terlawan itu, segera lari lintang-pukang ke jungnya. Demikian pula sang Raja. Mereka bermaksud akan segera meninggalkan Muara Kaman dengan lipannya yang dahsyat itu, tetapi ternyata mereka tidak diberi kesempatan oleh lipan-lipan itu untuk meninggalkan Muara Kaman hidup-hidup. Karena lipan-lipan itu telah diucap untuk membinasakan Raja dan bala tentara Cina, maka dengan bergelombang mereka menyerbu terus sampai ke Jung Cina. Raja dan segenap bala tentara Cina tak dapat berkisar ke mana pun lagi dan akhirnya mereka musnah semuanya. Jung mereka ditenggelamkan juga.
Sementara itu Aji Bedarah Putih segera hilang dengan gaib, entah kemana dan bersamaan dengan gaibnya putri, maka gaib pulalah Sumur Air Berani, sebagai kekuatan tenaga sakti kerajaan itu. Tempat Jung Raja Cina yang tenggelam dan lautnya yang kemudian mendangkal menjadi suatu daratan dengan padang luas itulah yang kemudian disebut hingga sekarang dengan nama Danau Lipan.

(Disadur dari Masdari Ahmad, Kumpulan Cerita Rakyat Kutai, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta 1979)